Pertemuan dan Akhir







    Ada seorang laki-laki dewasa awal, yang tengah menempuh perkuliahannya di tahun ketiga, sering mendapati seorang wanita berpakaian rapi sedang duduk termenung sendirian menatap laptopnya di sebuah kafe dekat kampusnya. Ia tidak berhenti menatap wanita itu di tengah keramaian, di tengah ia bersama teman-teman kampusnya yang sedang makan siang di sana.


    Pemuda itu bernama Reinaldi, biasa teman-temannya memanggil ia Rei. Ia sering diledek sebagai seorang playboy karena kemudahannya mendekati seorang perempuan, bahkan ia mengakui ia terkadang mendekati mereka tanpa perasaan. Pun bukan cuma ingin berteman, hanya senang mengganggu dan menggoda mereka. Kebanyakan, perempuan-perempuan tersebut juga kesenangan dan ada yang menganggapnya sebagai lelucon, ada juga yang sampai terbawa perasaan—berakhirlah ia dicap sebagai laki-laki yang buruk.


Padahal, Rei hanya tidak begitu mengerti perasaan cinta. Salah orang tuanya? Bisa saja. Mereka bercerai ketika ia masih kanak-kanak. Kasih sayang ibu? Mana pernah. Ayahnya? Tidak peduli.


    Namun, ia merasakan perasaan berbeda tiap kali melihat wanita tersebut. Tidak hanya sekali, tiap hari saat berkunjung dan ada wanita tersebut—mungkin memang langganan dan tempat istirahat wanita itu—ia merasakan perasaan aneh itu.


    Sampai suatu ketika, ia mencoba untuk mendekati wanita itu, barang hanya sekali. Ia—bersama teman-temannya—kembali makan di kafe di mana pertama kali ia melihat wanita itu. Entah takdir, wanita itu juga ada di sana—seakan masih berkelit dengan keyboard dan layar laptopnya.


“Oi, oi, kalian pernah nonton konser ini gak? Katanya lagi booming anjir, jadi kepo! Ke sana yuk!?” salah seorang teman Rei memecah keheningan di antara mereka selagi makan.


“Hah serius lu? Lihat harganya—sianjir lagi murah woe! Padahal mulai memuncak gak sih ini mereka!” seru seorang gadis yang ber-hairstyle bergelombang dengan ombre ungu-mint.


“Ya makanya kan, mana gua dengerin lagu-lagu mereka juga auto nyantol! Gimana, Rei, lu mau ikut ga—“ belum selesai pertanyaan dengan tepokan teman Rei itu—sebut saja Bras—pada Rei, tiba-tiba Rei berdiri. “Oi? Mau ngapain lu?” Bras hanya terpelongok menatap Rei yang telah berdiri begitu saja tanpa menggubrisnya.


“Gua permisi sebentar, ya.” Cengirnya, kemudian meninggalkan teman-temannya yang masih terdiam membatu menatapi kepergian Rei.


“Hah? Dia mau ngapain, sih? Mo godain anak orang lagi—“ celetuk gadis berombre ini, sebut saja Grasi.


    Lalu betapa terkagetnya mereka, dari kejauhan, Rei sedang mendekati seorang wanita—yang terlihat paruh baya—kantoran yang tampaknya sedang istirahat di kafe ini. Mereka kompak membatin, “Si Rei goblok ini—sekarang mau deketin cewek yang lebih tua!!?!!”


    Sementara itu, Rei berjalan santai menghampiri meja wanita itu. Seorang wanita dengan surai cokelat sedada yang dibiarkan tergerai rapi, berpakaian blus putih dengan rok selutut berwarna hitam, di posisi duduk mantap depan laptopnya. Wanita itu seketika tersentak ketika Rei telah berada di samping wanita itu dengan merendahkan badannya untuk memperhatikan wajah wanita itu lebih dekat.


“Kau sedang sendirian? Bekerja?” celetuk Rei, bertanya pada wanita itu.


“Maaf, kau siapa?” wajah wanita itu tampak datar, meski terlihat kerutan di keningnya yang menandakan ia merasa terganggu dengan kehadiran Rei yang tiba-tiba.


“Oh. Aku hanya pelanggan yang sering makan di sini juga. Apa aku boleh duduk di meja ini?” senyumnya, seolah tanpa dosa.


“Maaf. Saya sedang bekerja. Kurasa masih banyak meja kosong lain di sini.” Jawabnya, mencoba membiarkan laki-laki itu.


“Hee… dingin sekali, ya. Baiklah. Aku tidak akan menyerah. Sampai jumpa.” Rei pun meninggalkan wanita itu dengan senyuman tipis di wajahnya. Sementara sang wanita, hanya bergeming sembari menatapi punggung laki-laki itu yang mulai menjauh darinya.


“…Hah?”


Ia membatin, “Laki-laki tidak jelas.” Kemudian melanjut mengetik.

“Oii, gimana Rei??” teman-temannya seketika langsung kepo setelah Rei akhirnya kembali ke meja mereka.

“Oii, gimana Rei??” teman-temannya seketika langsung kepo setelah Rei akhirnya kembali ke meja mereka.


“Begitulah. Ditolak.” Ucapnya, enteng.


“Si goblok ini, mana bisa orang lebih tua mempan sama pedekate lu anjiiir. Yang bener aja lu,” protes Bras pada teman dekatnya itu.


“Entahlah. Aku tidak peduli. Yang kupikirkan aku tertarik dengan wanita itu, ia seolah berbeda dengan perempuan yang biasa kudekati. Dindingnya tinggi sekali.” Lanjutnya, sembari menyesap kopinya.


“Yaiyalahhh, lu masih kuliah egeee. Mana bisa,” sambar Grasi.


“Hmm, bukan masalah,” senyum Rei, tipis.


***


Beberapa hari telah berlalu, Rei kembali menikmati istirahatnya sembari menunggu kelas di kafe dekat kampusnya. Tentu sembari berharap wanita yang kapan lalu juga sedang makan di sana.


Dan benar saja, wanita itu kembali datang dengan menenteng laptopnya.


Tanpa sadar, ia mendekati wanita tersebut tanpa tedeng aling-aling. “Selamat datang. Apa ada yang bisa dibantu?” Rei memasang senyuman, seraya berlagak menjadi seorang pelayan di kafe itu.


“Hah? Memangnya kau bekerja di sini?” sang wanita menaikkan alisnya.


“Haha, tidak, sih. Tapi aku ingin menyambut kedatanganmu.” Tawanya, tergelak.


“Orang aneh.” Wanita itu melewati Rei tanpa mempedulikannya, kemudian menuju meja khusus yang menyediakan satu kursi untuk satu orang. Namun, ia tidak sadar, ada suatu kertas yang jatuh dari laptopnya. Rei yang melihat jatuhnya kertas itu, segera meraihnya.


“Hoo…” kemudian mendekati meja wanita itu lagi. “Namamu Indah, ya?” tanyanya, masih menampangkan senyum.


“Hah? Dari mana kautahu—“ wanita itu hampir menggebrak meja sampai akhirnya Rei menunjukkan kertas yang tadi terjatuh ketika wanita itu lewat.


“Kau menjatuhkan ini.” Cengirnya.


“Tsk. Harusnya langsung kaukasih bukan kaulihatin dulu.” Tariknya cepat dari tangan Rei. “Jangan mengganggu orang.” Lanjutnya, seakan tidak tahan lagi diganggu.


“He… terima kasih peringatannya, Mbak Indah. Saya merasa diperhatikan.” Senyumnya kembali. “Omong-omong, aku mahasiswa di kampus dekat sini. Namaku Rei. Mbak Indah kerja di kantor dekat sini toh?” Rei mencoba membuka percakapan dengan perkenalan diri.


“Ga peduli.” Balasnya, sembari membuka laptop yang ternyata di-sleep.


“Aaah… dinginnya.” Tahu-tahu menarik kursi dari meja lain dan duduk berhadapan dengan wanita bernama Indah ini. “Padahal ini jam istirahat kan, kenapa masih bekerja?” tanyanya, sembari memangku dagu dengan kedua tangannya.


“Serah aku kan.” Jawab ketus Indah.


“Seharusnya manfaatkan istirahat dengan baik.” Sambung Rei.


Indah hanya terdiam dan membiarkan pemuda itu berada di hadapannya. Ia melanjutkan bekerja, mengetik laporan, sembari menanti santapannya datang. Setengah jam berlalu, sampai akhirnya… “Ukh. Kau bisa tidak pindah tempat lain!?” Indah murka.


“Eeh? Aku ga ngapa-ngapain lo. Cuman ingin melihat wajahmu lebih dekat saja.” Jawab enteng Rei.


“Ya itu menggangguku, tahu. Pergi sana!” usir Indah.


“Ah.” Ia melirik ke jam tangannya, “Benar juga. Sudah jam mau masuk kelas. Untung Mbak ingatkan. Makasih, ya!” Rei beranjak dari kursinya, kemudian tersenyum pada wanita tersebut dan pergi ke kampusnya kembali.


“Uh… apaan sih… padahal kau cuman mahasiswa kan… maksudku, untuk apa mendekatiku yang hanya pekerja kantoran ini…” dengus Indah, menghela napas panjang. “Haaah… kubenci laki-laki seperti itu,” ia pun menyantap makan siangnya, lalu kembali ke kantornya.


Sayang, tidak hanya di hari itu saja ia didekati, tetapi hari-hari berikutnya pun begitu. Padahal ia sudah menunjukkan raut tidak senang dan kata-kata cuek, tetapi tetap saja terus berlanjut.

***


“Indah. Hari ini aku harus izin lagi. Tolong back up kerjaanku, ya.” Lalu teman kerja yang lebih tua darinya itu melengos pergi.


“E-eh tunggu dulu—“ Indah tidak bisa menolak, lalu tertunduk lesu, “Hah… lembur lagi…” ia menarik napas panjang, kemudian dihembuskan perlahan. “Yasudahlah, aku juga tidak ada kegiatan…

Sampai beberapa hari, ia tidak berkunjung ke kafe itu dan pulang larut malam.


“Begitulah. Ditolak.” Ucapnya, enteng.


“Si goblok ini, mana bisa orang lebih tua mempan sama pedekate lu anjiiir. Yang bener aja lu,” protes Bras pada teman dekatnya itu.


“Entahlah. Aku tidak peduli. Yang kupikirkan aku tertarik dengan wanita itu, ia seolah berbeda dengan perempuan yang biasa kudekati. Dindingnya tinggi sekali.” Lanjutnya, sembari menyesap kopinya.


“Yaiyalahhh, lu masih kuliah egeee. Mana bisa,” sambar Grasi.


“Hmm, bukan masalah,” senyum Rei, tipis.


***


Beberapa hari telah berlalu, Rei kembali menikmati istirahatnya sembari menunggu kelas di kafe dekat kampusnya. Tentu sembari berharap wanita yang kapan lalu juga sedang makan di sana.


Dan benar saja, wanita itu kembali datang dengan menenteng laptopnya.


Tanpa sadar, ia mendekati wanita tersebut tanpa tedeng aling-aling. “Selamat datang. Apa ada yang bisa dibantu?” Rei memasang senyuman, seraya berlagak menjadi seorang pelayan di kafe itu.


“Hah? Memangnya kau bekerja di sini?” sang wanita menaikkan alisnya.


“Haha, tidak, sih. Tapi aku ingin menyambut kedatanganmu.” Tawanya, tergelak.


“Orang aneh.” Wanita itu melewati Rei tanpa mempedulikannya, kemudian menuju meja khusus yang menyediakan satu kursi untuk satu orang. Namun, ia tidak sadar, ada suatu kertas yang jatuh dari laptopnya. Rei yang melihat jatuhnya kertas itu, segera meraihnya.


“Hoo…” kemudian mendekati meja wanita itu lagi. “Namamu Indah, ya?” tanyanya, masih menampangkan senyum.


“Hah? Dari mana kautahu—“ wanita itu hampir menggebrak meja sampai akhirnya Rei menunjukkan kertas yang tadi terjatuh ketika wanita itu lewat.


“Kau menjatuhkan ini.” Cengirnya.


“Tsk. Harusnya langsung kaukasih bukan kaulihatin dulu.” Tariknya cepat dari tangan Rei. “Jangan mengganggu orang.” Lanjutnya, seakan tidak tahan lagi diganggu.


“He… terima kasih peringatannya, Mbak Indah. Saya merasa diperhatikan.” Senyumnya kembali. “Omong-omong, aku mahasiswa di kampus dekat sini. Namaku Rei. Mbak Indah kerja di kantor dekat sini toh?” Rei mencoba membuka percakapan dengan perkenalan diri.


“Ga peduli.” Balasnya, sembari membuka laptop yang ternyata di-sleep.


“Aaah… dinginnya.” Tahu-tahu menarik kursi dari meja lain dan duduk berhadapan dengan wanita bernama Indah ini. “Padahal ini jam istirahat kan, kenapa masih bekerja?” tanyanya, sembari memangku dagu dengan kedua tangannya.


“Serah aku kan.” Jawab ketus Indah.


“Seharusnya manfaatkan istirahat dengan baik.” Sambung Rei.


Indah hanya terdiam dan membiarkan pemuda itu berada di hadapannya. Ia melanjutkan bekerja, mengetik laporan, sembari menanti santapannya datang. Setengah jam berlalu, sampai akhirnya… “Ukh. Kau bisa tidak pindah tempat lain!?” Indah murka.


“Eeh? Aku ga ngapa-ngapain lo. Cuman ingin melihat wajahmu lebih dekat saja.” Jawab enteng Rei.


“Ya itu menggangguku, tahu. Pergi sana!” usir Indah.


“Ah.” Ia melirik ke jam tangannya, “Benar juga. Sudah jam mau masuk kelas. Untung Mbak ingatkan. Makasih, ya!” Rei beranjak dari kursinya, kemudian tersenyum pada wanita tersebut dan pergi ke kampusnya kembali.


“Uh… apaan sih… padahal kau cuman mahasiswa kan… maksudku, untuk apa mendekatiku yang hanya pekerja kantoran ini…” dengus Indah, menghela napas panjang. “Haaah… kubenci laki-laki seperti itu,” ia pun menyantap makan siangnya, lalu kembali ke kantornya.


Sayang, tidak hanya di hari itu saja ia didekati, tetapi hari-hari berikutnya pun begitu. Padahal ia sudah menunjukkan raut tidak senang dan kata-kata cuek, tetapi tetap saja terus berlanjut.

***



“Indah. Hari ini aku harus izin lagi. Tolong back up kerjaanku, ya.” Lalu teman kerja yang lebih tua darinya itu melengos pergi.


“E-eh tunggu dulu—“ Indah tidak bisa menolak, lalu tertunduk lesu, “Hah… lembur lagi…” ia menarik napas panjang, kemudian dihembuskan perlahan. “Yasudahlah, aku juga tidak ada kegiatan…”


Sampai beberapa hari, ia tidak berkunjung ke kafe itu dan pulang larut malam.


Chapter 3


Sejak kejadian itu, Rei selalu menghabiskan waktu istirahatnya di kafe tersebut. Teman-temannya sudah menyerah menghentikan Rei dan membiarkannya sampai sejauh mana bertahan. Mereka berpikir, mungkin Rei sudah cukup berubah mengingat kelakuannya terdahulu seakan tidak menghargai perasaan orang lain.


Namun, sejak hari di mana ia telah memperkenalkan dirinya, wanita itu tidak pernah datang lagi.


Ia berpikir berbagai cara agar tetap terhubung dengan wanita tersebut. Hingga suatu ketika, Rei memberanikan diri menunggu di kantor dekat kampusnya—ya, ia tahu karena tidak sengaja melihat kertas yang terjatuh saat itu.


Setelah pulang ngampus, yang ternyata jadwalnya lebih cepat dari perkiraan, ia duduk menunggu di bangku luar kantor tersebut. Sampai waktu telah menunjukkan hampir menjelang malam, wanita itu pun akhirnya keluar.


“Ah. Mbak Indah.” Terpancar senyuman cerahnya yang sesaat berdiri dari bangku tersebut.


“Ka-kau!?” Indah tersentak.


“Mbak sudah makan? Atau mau langsung kuantar—“


“Kau mau apa sih!” bentak Indah. “Aku lagi tidak ingin menjalin hubungan! Apalagi termakan rayuanmu! Aku benci laki-laki seperti kau! Hentikan saja!” Indah mengepal kedua tangannya karena telah lama ingin mengeluarkan hardikan ini.


“Aku cuman mau menemanimu pulang.” Jawab Rei, menatap tajam dan serius pada Indah.


“Tsk. Aku bisa sendiri!” memegang erat tas selempangnya, kemudian sesaat terhuyung dan ditangkap oleh Rei.


“Kau sedang tidak baik. Biarkan aku membantumu.” Ucap Rei, tegas.


“Biarkan saja aku… kau belum mengenalku, aku juga curiga padamu. Aku gak suka—“


“Maka dari itu, biarkan aku mendekatimu untuk mengenalmu.” Tegas Rei.


“Ukh…” Indah menyerah, wajahnya juga telah memanas. Rei benar, Indah sedang sedikit demam karena memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk dan pekerjaan teman kerjanya. Namun, ia tidak bisa mengatakan itu. Rei spontan mendukung belakang Indah.


“Hei… kau hanya menemaniku, bukan mendu—“ suara Indah melemah.


“Badanmu panas. Kau harus segera istirahat. Tapi kita makan dulu.” Rei berjalan menuju kafe yang biasanya mereka datangi. Indah sudah tidak ada tenaga, maka ia hanya mengikuti ke mana arah Rei melangkah.


***


Indah terbangun, selama didukung Rei ia ketiduran saking lelahnya. Sebuah bubur hangat telah dihidangkan di depan wajahnya.


“A-aku di mana…”


“Kita masih di kafe. Kau makan dulu.” Ucap Rei, mempersilakan Indah.


Indah meraih sendoknya, tetapi ketika akan diangkat, tangannya melemah. Rei yang menyaksikan itu, langsung mengambil alih sendoknya dan menyendokkan bubur itu. “Sini, makanlah.” Ia menyuapkan pada Indah.


Indah terdiam. Namun, ia tahu ia tidak bisa menahan diri lebih dari ini, maka ia menerima suapan tersebut dan menelannya.


Tanpa sadar, ia meneteskan air mata.


“Uh… maafkan aku,”  ia menundukkan kepalanya. “Aku benar-benar benci dan muak padamu, tapi kau selalu mengikutiku, aku selalu menyadari tatapanmu padaku. Aku benar-benar risih…” ia menahan sesegukannya, “tapi kenapa kau berbuat begini… aku gak ngerti… kau mau apa…”


Rei yang tak tega memandangi wanita yang lebih tua darinya itu, menyeka air mata sang wanita. “Aku hanya ingin lebih dekat dan terhubung denganmu. Selama ini, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, kupikir dengan begitu, kumasih bisa merasakan senang. Tapi, tetap saja… rasanya aku seperti orang yang main-main. Jujur, aku tidak ingin seperti Ayah.”


Indah hanya menatapi pemuda ini. “Umurku sudah 26 tahun…”


“Aku tahu. Tapi bukan masalah. Lagi pula aku gap year dan sempat juga exchange, umurku sudah 24. Tidak begitu jauh, kan?” ia terkekeh, seakan tersenyum sendu.


“Tapi aku tidak tahu…” ia kembali mengepalkan kedua tangannya.


“Sudah kukatakan, aku akan tetap berusaha terhubung denganmu. Masalah perasaan, biar waktu saja yang menjawab. Aku gak masalah.”


Indah yang tidak tahan mendengar kalimat itu, hanya menangis meraung. Rei hanya bisa mengusap pelan puncak kepala wanita tersebut dan berusaha agar sang wanita menghabiskan buburnya. Rei mengantar pulang sang wanita, sementara Indah masih dirundung kekalutan.


Chapter 4


Namaku Indah. Umurku 26 tahun. Seorang pekerja di sebuah kantoran.


Dua hari ini, aku benar-benar istirahat total karena kesehatanku menurun akibat memaksakan diri. Namun, seorang pemuda yang lebih muda dua tahun dariku, yang berusaha mendekatiku sampai aku muak, malah berbuat baik dan peduli padaku. Aku memang hidup sendiri di tengah kota. Aku rantauan dari sebuah kabupaten. Aku juga memiliki kenangan buruk saat menjalin hubungan dengan seseorang pada saat sekolah. Maka dari itu… aku benar-benar tidak suka didekati dengan begitu gencar.


…Apa yang harus kulakukan sekarang?


***

Akhir pekan telah tiba.


Apartemen Indah diketuk oleh tetangganya. “Indaaah,”


Dengan cepat, Indah membuk pintunya, “Yaa?”


Dengan cepat, Indah membuk pintunya, “Yaa?”


“Ada orang yang menunggumu di bawah.” Jawab sang tetangga.


Indah lantas langsung turun dan menemui orang tersebut di depan lobi.


“Ah. Mbak Indah. Sudah sehatan?” senyuman itu kembali terpatri. Ya, Rei datang menjenguk.


“Kau… kenapa…” Indah melemas, segera duduk di sofa depan lobi.


“Mbak Indah gak apa?” Rei memastikan, “Aku membawa buah-buahan untukmu, dan bunga, mungkin dapat juga menyegarkan pikiranmu,” cengirnya.


“Aku tidak mengerti…”


Rei memiringkan kepala, “Ya?”


“Aku pernah bilang membencimu, bukan? Kenapa bersikeras? Tapi… terima kasih juga sudah menolong dan mengantarku sampai sini…”


“Ya… aku mengerti kebencianmu. Aku juga sempat membenci diriku sendiri yang terlihat fake. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya bisa memperbaiki diri dan mencoba lagi?” cengirnya kembali.


“Hhh…” Indah menghela napas panjang. “Aku akan tetap seperti ini.” Sambungnya.


“Gak apa. Aku akan tetap ingin mengenalmu dengan caraku.” Senyumnya. “Nah, ambillah dulu buah dan bunga ini. Buahnya dimakan ya, jangan bunganya,” tergelak.


“…Ya…” Indah menerima itu semua dengan pasrah.


“Sampai jumpa kembali.” Rei pun pulang, sementara Indah masih bergeming di tempat.


***


Weekdays. Di kampus.


“Wooi, Reei! Gimana itu sama Mbak lu? Lancar-lancar?” tepok Bras.


“Begitulah, masih panjang perjalanan,” kekehnya.


“Buset dah, keknya emang ini yang paling susah yak. Gahaha! Macem naik level aja lu,” gelak Bras.


“Bisa jadi.” Jawab enteng, Rei.


Tiba-tiba Grasi muncul di hadapan mereka. “Oi, Rei! Kalo berhasil dapatin hatinya nanti, lo bakal campakkan juga gak?” pertanyaan yang tiba-tiba.


Rei terdiam, menatapi Grasi. Grasi panik, “O-oi aku cuman nanya lo??”


“Entahlah. Yang kurasa wanita itu beda, jadi begitulah,” kemudian Rei melengos menuju kelasnya.


Bras dan Grasi yang mendengar itu hanya saling setatapan. “Gahaha! Rei bener-bener berubah!!”


***


Tidak ada kelas di siang hari, Rei memutuskan ke kafe dekat kampusnya lagi. Begitu masuk, Indah telah duduk sembari mengetik, sesekali menyeruput teh di samping laptopnya. Rei hampiri Indah pelan-pelan dari belakang, kemudian memunculkan diri dengan menunjukkan dua tiket ke taman bermain. “Siang, Mbak Indah. Akhir pekan nanti ayo jalan-jalan,” cengirnya.


Indah menatap Rei lekat-lekat, lalu menghela napas panjang. “Maaf, lagi numpuk-numpuknya kerjaan,”


“Hee…” Rei memandangi layar laptop Indah. “Mau kubantu?”


“Hah!? Janganlah! Itu tanggung jawabku!” Indah panik.


“Ahahaha, benar juga, kau orang yang bertanggung jawab,” tawa Rei pecah.


“Ck. Makanya jangan ganggu,” balas Indah ketus.


“Haha, maaf, kalau begitu, kutinggalkan nomor hapeku di sini ya. Kalau-kalau kau luang. Tapi boleh aku tetap di sini sampai kau kembali?” minta Rei.


“Ukh, terserah.” Balas Indah, membuang muka.


Rei tersenyum, “Terima kasih.”


Indah tetap berusaha fokus untuk setidaknya mencicil kerjaannya. Meski begitu, kekalutannya semakin menjadi ketika ia menyadari bahwa tatapan pemuda di depannya itu begitu tulus dan hangat.


*Chapter 5*


“Ah. Pekerjaanku lebih cepat dari dugaanku.”


Indah segera menoleh ke jam dinding kantornya, dan betapa senang ketika ia melihat masih jam tiga sore di hari Jumatnya. “Aaah! Bisa pulang cepat!!”


Ketika sedang beberes-beres, ia tidak sengaja melihat kertas yang tercantum nomor handphone Rei lalu membatin, “Hmm, nanti sajalah,”


Namun, begitu ia keluar dari kantornya, Rei telah menanti di tempat yang sama seperti sebelum-sebelumnya. “Mbak Indah,” dengan masih senyum menangkring di wajah.


“Aaakkh, dia lagii,” batin Indah.


“Kerjaannya selesai lebih cepat?” tanyanya.


“Ya, gitu deh.” Melirik ke tempat lain.


“Mau pulang bareng?” tanya Rei.


“Em… kalo kubilang enggak, gimana?” ketus Indah.


“Aku ikuti.” Senyum Rei.


“Kau nanti disangka penguntit, tau.” Sindir Indah.


“Walau begitu aku tetap harus berusaha. Kalau diam saja, itu bukan caraku.” Senyumnya lagi.


“Begitu? Terserah kau saja…” Indah menyerah.


“Yey,” senang Rei sembari menge-peace.


Mereka pun berjalan pulang menuju apartemen Indah.


“Bagaimana asalmu dulu?” tanya Rei memulai percakapan.


“Ya gitu, banyak gunung, pohon, asri sih, aku senang ketika bersekolah di sana, tapi takdir membawaku kuliah sampai ke kota.” Jawabnya. “Kau sendiri exchange ke mana?”


“Oh. Mbak Indah masih ingat? Ahaha, saya tersanjung.” Tawa Rei mencairkan suasana.


“Kau meledekku, ya.” Indah merasa kaget dengar tawa Rei.


“Tidak. Aku sempat exchange ke Kanada.” Jawab Rei.


“He… jauh, kenapa pilih di sana?” Indah jadi terbawa suasana dan menikmati obrolan mereka.


“Sebenarnya aku menghindari kedua orang tuaku. Mereka masih satu kantor, walau sudah bercerai, masih saja tidak harmonis. Setidaknya pasang muka lain atau apa untuk profesionalitas, aku tidak suka.”


Indah yang mendengar itu, hanya menatap Rei dengan dalam.


“Ah. Jadi bercerita itu. Ahaha, maksudku aku memilih Kanada katanya negara itu lebih ramah pada pendatang baru, dari negara mana pun, aku sengaja memilih negara yang lebih jauh dari pilihan yang ada. Waktu itu pilihan lainnya ada Singapura, Jepang, dan Taiwan, aku pilih yang di Benua Amerika saja.” Tawanya, terdengar dipaksakan.


“Rei.” Indah berhenti melangkah, terdiam.


“Ya?” Rei menoleh ke belakang.


“Kau menyimpan banyak rasa sakit dan kecewa, ya?” tanya Indah sembari menatap jalanan dan sepatu hak tingginya.


“Kenapa tiba-tiba?”


“Aku juga kabur dari tempat asalku. Aku tidak ingin bertemu dengan seseorang yang telah menyakitiku. Bahkan ketika melihatku pulang juga ia selalu memandang rendah padaku. Orang tuaku juga kadang memaksaku untuk menikah, menikah, dan menikah—aku muak! Aku gak suka…” tangannya meremas roknya.


“Indah…”


“Makanya, aku mengerti sekali perasaanmu. Aku memang membencimu di awal, tapi… tapi aku…” Indah menahan air matanya, Rei sontak menyentuh pelan bahu wanita itu.


“Indah, aku tidak memaksamu. Aku hanya ingin dekat dahulu denganmu. Terima kasih kau sudah menceritakan hal yang kautahan selama ini.” Rei tersenyum getir.


“Rei… Reinaldi…” nama itu pun terucap di bibir Indah.


“Namamu bagus, ya.” Air mata yang tertahan meluncur pada pipinya, “Akhir pekan nanti aku luang. Ayo kita istirahat dengan bermain bersama,” Indah menyeka matanya sendiri dengan senyuman yang pertama kali ia tunjukkan pada Rei.


Rei tersentak, memandangi senyuman yang pertama kali ia lihat dari wajah yang selama ini ia perhatikan. Benar-benar, ia merasakan perasaan yang sama sekali berbeda dan belum pernah ia rasakan sampai detik ini.


“Mbak Indah, senyumanmu memang cantik.” Ucapnya, spontan.


Indah terkejut. “H-hei… kenapa tiba-tiba…” Indah sedikit memunculkan semburat merah pada wajahnya. Kemudian, mereka tertawa bersama.


Rei pun telah mengantarkan Indah sampai ke apartemennya, ia berucap, “Sampai jumpa besok, ya.”


Indah tersenyum kecil, “Ya.”


*Chapter 6*


Hari Minggu telah datang. Indah segera bangkit dari tempat tidurnya, bersiap-siap memakai pakaian terbaik yang telah ia pilih dari semalam.


Ketika ia keluar dari apartemen, senyuman Rei telah menyambutnya.


“Selamat pagi, Mbak Indah.” Sapa Rei.


Indah hanya tersenyum tipis, “Berhentilah memanggilku mbak.” Balasnya.


Rei mengerjapkan matanya, “Apakah artinya aku telah terima?”


“B-belom, tahu! Jangan mengada-ada dulu. Kan kucuman nerima tawaranmu buat refreshing.” Jawab Indah, sedikit malu-malu, tetapi mau.


“Ahaha, iya, iya, benar juga,” tawa Rei menyahut.


***


Mereka pun telah sampai di taman bermain setelah memberikan tiketnya pada petugasnya.


“Asyik! Taman bermain! Sudah lama gak ke siniii~” Indah jadi lupa diri dan tempat begitu telah menginjakkan kaki ke dalam.


“Indah menantikannya juga?” sahut Rei.


“Eh.” Seketika Indah ingat diri bahwa sudah 26 tahun, “T-tunggu tadi aku gak sengaja, maksudku—“ belum selesai Indah membela dirinya karena malu dengan sikap lepasnya tadi, Rei hanya tertawa menikmati ekspresi Indah yang baru pertama dilihatnya.


“Ahaha, aku senang sekali bisa ke sini denganmu.” Balasnya, spontan.


Indah yang mendengarnya jadi tambah malu. “N-ngomong apa sih, mending kita main bianglala dulu—“ langkahnya seketika menuju permainan yang dimaksud.


“Baik.” Ikut Rei.


***


“Waah, indaaahh, aaaaaa—“ tanpa sadar, begitu telah menaiki bianglala dan telah berada di tengah-tengah puncak, ia menempelkan kedua tangannya pada kaca. Terkesima dengan pemandangan di bawahnya yang mencakup berbagai bangunan di kota tempatnya tinggal.


“Kau menyebut namamu sendiri tuh. Ahaha,” gelak Rei.


“Ih, apa sih—“ ketus Indah.


Rei pun ikut-ikutan melihati pemandangan di luar dari kaca, “Tapi kau benar, pemandangannya begitu indah,” kemudian memandangi wanita di sebelahnya, “seperti namamu.” Memandang lembut Indah.


“Ukh.” Indah kaget ditatapi begitu lembut seperti itu. “Sudah dong. Aku cuman mau main…” menutup wajahnya dengan punggung tangannya, bermaksud Rei tidak melihat wajahnya yang seperti warna tomat matang.


Rei hanya tertawa kecil.


***


“Habis ini ke rumah hantu, yuk? Aku belum pernah ke sana!” seru Indah melihat peta dan jumlah wahana yang ada di sana.


“Boleh saja.”


Begitu mereka memasuki wahana tersebut, belum apa-apa, Indah langsung mencengkram baju Rei saat mulai terdengar backsound seram. “Gaahh, kok nyeremin banget sih—kupikir abal-abal…” celoteh Indah.


“Bukannya kau sendiri yang mau ke sini?” tanya Rei, iseng.


“I-iya sih, tapi kupikir cuman ala-ala… tapi kok kayak beneran niat…” balas Indah, agak gemetar.


“Haha, gak apa, kutemani sampai akhir—“ belum selesai Rei bicara, sesuatu jatuh ke pundak Indah sampai Indah seketika berteriak kencang.


“AAAAAAAAAAAA, REEEEEEEEEI!!!” menemplok pada Rei.


“Ahaha, iya, iya,” Rei pun sampai akhir menikmati keterkagetan Indah dan bagaimana Indah menarik dan meremas bajunya sebagai refleksnya.


Akhirnya mereka pun berhasil keluar.


“Hah… hah… kapok, gak mau lagi,” badan Indah otomatis melemas.


“Makan siang dulu, yuk.” Tawar Rei.


Indah pun mengangguk, kemudian mereka pun santap siang di tempat makan dalam sana. Indah memesan nasi goreng dan langsung melahapnya dengan cepat. Rei yang melihat cukup speechless, sampai akhirnya Indah sadar dengan kelakuannya.


“A-apa! Aku laper!” bela Indah, sedikit malu.


“Ahaha, astaga… aku kalau di dekatmu selalu ingin tertawa, menyenangkan sekali,” jujur Rei.


“Ukh, apa maksudmu!” protes Indah.


“Ternyata, aku memang menyukaimu, ya.” Gumam Rei.


“…Hah?”


“Ayo kita habiskan makan siang kita.” Lanjut Rei sambil menyendokkan makanannya.


Setelah itu, mereka masih melanjutkan bermain berbagai wahana sampai waktu telah menunjukkan matahari tengah tenggelam. Suara panggilan taman bermain akan ditutup mulai berkumandang. Terlihat raut Indah seakan mengutarakan ‘ah, sudah mau pulang, ya’.


Rei yang terus memperhatikan berbagai ekspresi Indah di hari ini berucap, “Indah, hari ini kau berbeda ketika saat bekerja, ya. Terlihat sangat periang.” Tatap Rei lurus, tersenyum tipis. “Sudah kuduga, aku menyukaimu.”


Indah lagi-lagi tersentak.


“Gak apa, tidak perlu dijawab, ayo pulang—“ Rei mulai melangkahkan kakinya, tetapi Indah hanya terdiam.


*Chapter 7*


“Rei.”


Bibir Indah kembali bergetar ketika mengucapkan nama itu.


“Aku senang. Aku menikmati hari ini.” Ucapnya.


“Aku merasa aku kembali menunjukkan diriku yang sebenarnya, yang selama ini kusembunyikan pada orang-orang, termasuk orang-orang kantor.” Lanjutnya.


“Saking senangnya, aku takut… takut aku dicampakkan lagi kalau kau tahu aku yang aslinya seperti ini… aku berusaha membuatmu selalu illfeel, berkata cuek, semuanya sudah kulakukan… tapi semakin kuladeni, atau kubiarkan, kuselalu memikirkanmu… aku…”


Tangannya kembali meremas ujung pakaiannya.


“Aku juga menyukaimu, Rei… aku tidak ingin hari ini berakhir… aku tidak bisa menahan lebih dari ini… aku sungguh mencintaimu, aku lelah menepisnya…”


Tangan besar Rei menyentuh wajah wanita ini.


“Indah, aku tidak memaksamu. Tapi aku sangat menghargaimu yang jujur pada dirimu sendiri. Apa pun perasaanmu, aku tetap menyukaimu, mencintaimu, ingin melindungimu, dan menjagamu.”


Indah menyentuh tangan besar Rei yang menyentuh wajahnya.


“Aku mencintaimu, Rei… tolong terima aku apa adanya… tolong topang aku… aku lelah selalu menahan semua ini sendirian…” air mata itu tidak terbendung, tekeluar semua.


Mereka berpelukan, seakan saling menerima diri mereka masing-masing. Kedua tangan itu, tangan kiri Rei dan tangan kanan Indah, berpegangan untuk dapat merasakan kehangatan satu sama lain. Mereka pun pulang dan Rei tentu mengantar Indah terlebih dahulu.

***


Sejak hari itu, Indah menerima perasaan Rei. Mereka telah menjadi sepasang kekasih. Setiap malam, Indah menyempatkan diri untuk chatting-an dengan Rei, tentu Rei menyambut itu dengan senang hati. Kadang kala, saking keasyikannya, mereka chatting-an sampai larut malam. Karena Rei paham mereka sama-sama memiliki kesibukan masing-masing dan membutuhkan istirahat juga, sering kali Rei mengingatkan untuk istirahat alih-alih chatting-an sampai lupa waktu. Katakanlah chatting-an sewajarnya untuk menyayangi diri dan bentuk perhatian.


Setiap harinya, Rei pun lebih suka menghabiskan waktu di kafe, jika tidak ada keperluan lagi di kampus, sekaligus menemani istirahat Indah. 


“Indah, boleh aku menugas di sini?” sapa Rei di suatu waktu.


“Boleh! Harus fokus kuliah memang kan biar cepat lulus! Jangan cuman memandangiku terus, hehe,” cengir Indah, balik mengisengi.


“Benar juga,” Rei tersenyum, lalu membuka laptopnya dan melanjutkan menyelesaikan makalahnya.


Setiap harinya pula, Rei selalu menemani Indah pulang sampai ke apartemennya.


“Jangan tidur terlalu larut, ya.” Ucap Rei mengingatkan Indah sebelum dia pulang.


“Kau juga jangan memaksakan diri mentang-mentang mau tahun akhir!” Kekeh Indah.


“Yaaa,” Rei melambaikan tangannya dan berjalan pulang menuju rumahnya.

***


Waktu cepat berlalu sampai tidak terasa Rei telah berada di penghujung semester tujuhnya. Rei saat ini tengah mempersiapkan tugas akhir (TA)-nya. Ia pun telah jarang bermain dengan teman-temannya, kecuali jika mereka memang ingin menyicil TA bareng.


Kala itu, Rei ingin menemui Indah di luar jam kampus dan kantor.


“Indah,” Rei menunjukkan senyumnya, “aku ingin memberikanmu ini.” Ia memberikan sebuah kalung dengan liontin bertuliskan huruf R.


“Aku ingin kau terus merasakan aku ada di dekatmu. Mungkin beberapa waktu aku akan sulit dihubungi karena penulisan TA.” Ucapnya, merendah.


“Kupasangkan, ya.” Rei memasangkan kalung tersebut pada pujaan hatinya.


“Rei… tetap semangat, ya. Aku tidak apa-apa kalo nanti kita jarang chatting-an, mulai minggu depan juga aku ada dinas di luar selama sebulan karena pelatihan. Semoga kau selalu sehat, ya.” Senyum Indah, mengembang.


“Ya, terima kasih pengertiannya, Indah,” Rei tersenyum sendu, getir, campur tulus. Perasaannya sulit dideskripsikan. Ia begitu menikmati hari-harinya yang selalu ditemani dan menemani Indah.


Ia berharap, hari-hari itu terus berlanjut.


*Chapter 8*


Selama beberapa hari, Rei benar-benar tidak kelihatan di sekitar kampusnya. Indah yang masih menghabiskan waktu istirahatnya di kafe terkadang menanti kehadiran Rei. Meski tahu mereka akan sulit bertemu, tetapi secuil di hatinya mengharapkan pertemuan mereka kembali. Selama itu Rei masih menghubungi Indah.


Sampai akhirnya Indah menjalani pelatihan di luar kota selama satu bulan. Saat itulah mereka benar-benar sama sekali tidak berkomunikasi. Indah yang tidak ada waktu memainkan, bahkan hanya membuka, handphone-nya; sementara Rei yang berfokus pada penulisan TA-nya.


Sebulan telah berlalu. Indah telah kembali ke apartemennya, sesekali ia mengecek handphone-nya untuk memastikan apakah ada pesan masuk dari Rei, tetapi nihil... tidak ada.


Beberapa hari, Indah mencoba menyibukkan diri dengan kerjaannya. Meski, masih, sesekali mengecek handphone-nya yang tiada notif dari Rei.


Ketika istirahat pun, saat mengetik dan menyantap makan siangnya di kafe seperti biasa, sesekali ia menatap ke arah pintu. Menanti kedatangan Rei. Namun, sampai istirahatnya selesai pun, pemuda itu tidak muncul.


Dua minggu telah berlalu tanpa kabar Rei. Indah memutuskan untuk mendatangi kampus Rei.


Ia yang clueless harus bertanya pada siapa, mencoba bertanya pada salah satu mahasiswa yang sedang duduk-duduk. “P-permisi, maaf, apakah tahu jurusan ini ada di mana?”

Sayang, mahasiswa tersebut tidak mengetahui tempat tongkrongan jurusan itu karena ia bukan mahasiswa fakultas itu.


Indah yang berjalan dengan tertunduk lesu hanya berkeliling fakultas tersebut. Sampai suatu ketika ada seseorang yang menyeru namanya, “Eh? Mbak Indah bukan, sih?”


Indah sontak langsung mengangkat dan menolehkan kepalanya pada sumber suara. Ia dapati seorang perempuan bersurai gelombang dengan warna ombrean ungu-mint mengenalnya. “K-kau temannya Rei…?” tanyanya, memastikan.


“Eh? Iya. Wah, beneran Mbak Indah, toh! Baru kali ini ke kampus sini kan!” girang Grasi.


“Aku… aku mengkhawatirkan Rei… ia sama sekali tidak membalas pesanku…” tangannya kembali terkepal.


“HAH? Chat Mbak Indah juga gak dibales?! Si gila itu… ampe nelantarin cewek sendiri…” tepuk wajah Grasi sendiri, facepalm.


“Eh? Dengan kalian juga gak ada kabar?” khawatir Indah.


“Sumpah ya Mbak, dari liburan bulan lalu, ia bener-bener gak ada kabar. Terakhir waktu itu kami mau bimbingan bareng gitu kan sama PA, tapi abis liburan bener-bener gak di-read sama sekali chat-chat kami… bahkan Bras juga udah nyamperin ke rumahnya, tapi rumahnya sepi?? Gelep?? Goblok banget ga sih… astaga…” Grasi pun curhat dengan kelakuan teman dekatnya itu.


“Dengan kalian pun… ia tidak mengabari, ya…” Indah semakin tertunduk lesu. Grasi yang tidak tega melihat kondisi Indah, hanya memeluknya erat.


“Maaf ya, Mbak, aku peluk Mbak… tapi aku ngerti perasaan Mbak. Pokoknya kalo ada apa-apa atau info soal Rei, aku langsung ngasih tahu Mbak, ya.” Indah yang dipeluk Grasi hanya menangis dalam diam.


Mereka pun bertukar kontak. Indah pun kembali ke apartemennya dengan wajah sendu, perasaannya campur aduk. Apakah ia dipermainkan lagi? Apakah selama ini Rei mempermainkannya? Apakah salah ia membuka hati kembali pada pemuda itu?


Air matanya tidak berhenti mengalir.

***


Tiga bulan telah berlalu, kondisi Indah sama sekali tidak membaik. Hari ini pun, ia disuruh lembur oleh atasannya. Indah tidak memiliki teman dekat di kantornya. Hari-hari bekerja di kantor ini serasa lebih berat dari sebelum-sebelumnya.


Rei belum mengabari sampai detik itu.


Setelah Indah menyelesaikan kerjaannya, waktu telah menunjukkan jam setengah sebelas malam. Dengan pikiran yang penuh, ia berjalan gontai menuju apartemennya di tengah malam.


Namun, tiba-tiba seorang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah muncul di depannya.



*Chapter 9*


Seorang perampok tiba-tiba muncul di hadapan Indah.


Indah yang terkejut bukan kepalang sementara kondisinya sedang tidak berdayanya, seketika langsung dibekap oleh perampok itu. “Diam. Kalau kau berteriak, akan kubunuh.” Sebuah pisau dikeluarkan perampok itu dari balik tubuhnya.


Indah tidak dapat berkata-kata, ingin menangis, tetapi ia tidak kuasa.


“Cepat serahkan kunci apartemenmu!”


Sial, Indah telah diincar cukup lama oleh perampok tersebut.


“Hmmph,” Indah hanya menggeleng-geleng untuk membela diri.


“Aelah, kuambil sendiri dari tas—“ tiba-tiba, hantaman yang keras dari belakang mengenai kepala perampok itu sampai terjatuh. Indah pun terlepas dari bekapan perampok itu.


“BRENGSEK, JANGAN GANGGU INDAH!” suara pemuda yang Indah rindukan terdengar masuk ke telinganya. Indah yang tadi terfokus pada perampok, seketika mendapati seseorang yang ia rindukan berada di depannya.


“R-Rei…” otaknya sulit mencerna peristiwa yang terjadi saat ini.


“Maafkan aku, Indah—“


Sang perampok masih sadar dan langsung menerjang Rei. “Sialan kau menendangku sampai berdarah—“ Rei kehilangan keseimbangan, tetapi saat ia berusaha berdiri kembali, sang perampok menusukkan pisaunya pada perut Rei. “Rasakan kau, HAHA MAMPUS!” ia menarik kembali pisaunya dan menghujam kembali pisaunya pada dada Rei. “Mampus, mampus,”


Indah yang menyaksikan hal tersebut spontan akan berteriak, “Tid—“ tetapi perampok lebih cepat darinya, “DIAM ATAU KAU KUHUJAM JUGA,” sang perampok dengan cepat menarik pisaunya dan merampas tas Indah, kemudian lari sekuat tenaga meninggalkan mereka.


Indah melemas, jatuh terduduk di hadapan Rei yang telah bersimbah darah.


Darah terus mengucur dari dada dan perut Rei, sementara Rei berusaha untuk tetap berdiri dan ingin menolong Indah berdiri. “In…dah… maafkan aku…”


“Kau terluka… kakiku gemetar…” Indah seakan membeku, tetapi Rei tidak dapat menahan kakinya hingga ia ikut terjatuh.


“Indah…maaf aku baru kembali…” Rei hanya mengatakan kata-kata itu berkali-kali.


“Bodoh, jangan mikirin itu dulu, a-aku akan berusaha… t-TOLONG, TOLOOONGGG,” Indah berteriak sekuat yang ia bisa, dengan posisinya yang terduduk, beberapa warga sekitar ada yang keluar dan membantu Indah berdiri, Indah menangis-nangis meminta tolong untuk dipanggilkan ambulans. Ambulans pun datang, meski sedikit telat, dan mengangkut Rei yang telah tergeletak penuh darah.


Indah ikut dalam mobil ambulans itu, ia sudah tidak peduli dengan nasib tas yang dirampok, yang ia pikirkan hanyalah ‘semoga Rei selamat’, ‘semoga Rei tetap hidup’.


“Rei… kumohon… tetaplah hidup…” tangannya memegang tangan besar Rei yang mendingin.


Di sela helaan napas berat, Rei berusaha untuk tetap sadar, berusaha untuk mengatakan apa yang harus ia katakan, “I…ndah…” panggilnya pada sang kekasih.


“R-Rei…” Indah menahan tangisnya.


“Aku… maaf…” Rei tersendat-sendat.


“Jangan ngomong, Rei… fokus saja… bertahan…” Indah memegang erat tangan Rei.


Rei berusaha menyetabilkan napasnya, tetapi sayang, jantungnya sesaat berhenti berdetak sehingga petugas kesehatan langsung memberikan penanganan cepat. Sementara itu, Indah harus meminggirkan diri sembari berdoa ‘selamatkan Rei, Tuhan’.


Sesampainya di rumah sakit, Rei langsung dibawa ke unit gawat darurat, dilakukan operasi pada bagian dada dan perutnya yang telah ditusuk.


Indah duduk terdiam di ruang tunggu. Pikirannya sudah ke mana-mana. Ia melemah, benar-benar tidak ada tenaga lagi.


Teman-teman Rei seketika menyusul ke rumah sakit setelah mengetahui Rei mengalami insiden ketika mau ke apartemen Indah.


“Mbak Indah!” seru Grasi. “Mbak gapapa? Mbak…” Grasi langsung memeluk Indah dengan erat.


“Mbak Indah,” Bras angkat suara, “maaf kami tidak sempat memberi tahu bahwa Rei sempat mengirimi kami pesan bahwa ia akan ke tempat Mbak…” Bras tertunduk menahan kekesalannya pada dirinya sendiri.



“Apa… maksud kalian…” Indah terdiam.


*Chapter 10 End*


“Ya, Rei sempat memberi tahu kami bahwa ia akan ke tempat Mbak… ingin berbicara alasan mengapa ia sempat menghilang. Baru dia akan memberi tahu kami. Tapi, tapi dia malah kena insiden seperti ini…” Bras menunduk.


“Bras, diem dulu,” Grasi mencoba menenangkan Indah. “Mbak, jangan dipikirkan dulu, kita berdoa dulu semoga Rei baik-baik saja…”


Indah hanya tersenyum kecut.

***


Beberapa jam telah berlalu. Grasi sempat ketiduran, sementara Indah masih terdiam. Seorang dokter mulai keluar dari ruang operasi tersebut dan menghampiri mereka, Indah langsung berdiri mendekati sang dokter.


“Ba…bagaimana, Dok?”


“Maafkan kami. Kami telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi memang darahnya telah banyak terkuras. Namun, ia masih memiliki kesadaran, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya terlebih dahulu.”


Indah segera memasuki ruangan tersebut dan mendapati napas Rei yang menderu, berusaha untuk tetap sadar.


“I-indah…”


Indah segera mendekati Rei dan mengelus puncak kepalanya. “Ya, Rei, aku di sini…” matanya seketika berkaca-kaca.


“Indah, hh… aku… berhasil… selesai… masalah… Ayah… hhh… Ibu… aku… hhh, bebas….”


Indah meneteskan air matanya, apakah selama beberapa bulan ini ia menghilang untuk menyelesaikan permasalahan tersebut? Tidak ingin semua orang tahu bahwa ia berjuang melawan itu semua? “Iya… Rei… kau hebat…” air mata Indah membanjiri wajahnya.


“Hh… Indah, hh... m..maaf… aku… masih… mau… hhhh… denganmu…” Indah memegang erat tangan Rei.


“Jangan… hh… lupakan… a-....” napasnya seakan terhenti.


“…ku….” jantungnya berhenti berdetak.


“Rei… Rei… aaa… AAAAAAAAAA,” Indah meraung, menangisi kepergian Rei untuk selamanya.


Bras dan Grasi pun ikut menangis. Kedua orang tua Rei baru sampai ketika Rei telah menghembuskan napasnya yang terakhir. Pun, mereka tidak dapat menahan kesedihan yang mendalam akibat ditinggalkan putra mereka satu-satunya.

***


Pemakaman Rei telah dilangsungkan. Indah masih belum bisa beranjak dari makam Rei. Ia menyentuh batu nisan tersebut, seakan sedang menyentuh lembut wajah pemuda itu. “Rei… aku… aku sedikit pun tidak menyesali kau hadir di hidupku… meski saat itu kau tiba-tiba menghilang… aku mencoba untuk percaya padamu lagi… meski rasanya menyakitkan…” Indah segera menyeka matanya yang kembali berair.


“Kautahu, saat itu aku benar-benar sudah tidak tahu harus bagaimana lagi… rasa sakit itu… benar-benar berbeda dengan rasa sakit sebelumnya… yang bisa kukatakan saat itu, yang bisa kuharapkan dalam doaku, ‘Tuhan, semoga Rei baik-baik saja’, ‘semoga Rei dapat menjelaskan semuanya nanti’, ‘semoga Rei kembali lagi’. Hanya itu yang dapat kulakukan di tiap malamnya, tapi kau muncul dalam keadaan seperti itu… aku… uh,” Indah menyeka matanya kembali dengan tangan kanannya.


“Terima kasih sudah menyelamatkanku…” wanita itu, tidak sanggup berpikir hal-hal buruk lagi. Yang bisa ia lakukan, adalah mengikhlaskan dan menerima niat dan tindakan baik dari kekasihnya tersebut.


“Indah…” suara asing menghentikan tangisnya, “…aku ibu Rei. Bisa bicara denganmu?”

***


“Dulu, Rei adalah anak baik dan penurut. Namun, ia berubah ketika kami lebih sering cekcok. Ia jarang kembali ke rumah. Bahkan pada saat ayahnya mendapat hak asuhnya, ayahnya membiarkannya saja. Rasanya aku muak dengan sikap ayahnya itu, maka kami lebih sering cekcok padahal telah berpisah.”


Sang ibu mulai menceritakan putra tunggalnya itu.


“Aku memang dilarang ayahnya untuk tidak menemui Rei. Namun, ketika Rei bilang akan menyelesaikan masalah kami, ia benar-benar menguraskan tenaganya untuk itu, entah berapa lama pun ia ingin masalah kami tuntas. Barulah ia bilang ia juga sedang menyiapkan TA dan hal-hal untuk melamar wanita yang disayanginya. Rei benar-benar menyayangimu, Nak…” bibir ibu Rei bergetar menceritakan itu.


“Tapi maafkan dia jika dia sempat menghilang hanya karena ia tidak ingin membuatmu khawatir… walau sebenarnya tidak ada beda…”


“Tante,” suara Indah ikut bergetar, “aku sudah ikhlas. Rei memang punya caranya sendiri.” Indah tersenyum bangga pada kekasihnya itu.


“Aku yakin. Ia kini telah tenang beristirahat di sana, kita juga harus berusaha ya, Tante.” Senyum Indah, mencoba tegar.

***


Hari-hari menyedihkan itu telah berlalu. Indah kembali ke rutinitas biasanya, bekerja. Ia memegang kalung pemberian mendiang kekasihnya, menggigit bibirnya, seraya membatin,


“Aku tidak akan melupakanmu.”



TAMAT

You may like these posts:

No comments:

Post a Comment